Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Januari 2019

Makalah Pembelajaran Kooperatif Bila Dikaji dengan Teori Psikologi


Makalah Pembelajaran Kooperatif  Bila Dikaji dengan Teori Psikologi



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pemilihan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu faktor penentu efesiensi dan keberhasilan belajar siswa. Siswa yang pintar dan memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi dari teman-temannya, terkadang menacapai hasil yang sama dengan teman-temannya yang lain. Sebaliknya, seorang siswa yang hanya memiliki kemampuan kognitif  rata-rata atau sedang terkadang mampu mencapai hasil yang maksimal dan mencapai puncak prestasi lantaran menggunakan model pembelajaran yang efektif dan efisien.
Pembelajaran adalah sebuah seni dalam memberikan pengajaran dan pendidikan kepada peserta didik. Pembelajar yang baik adalah yang memiliki konsep pola dan desain yang tepat dengan karakter kelas yang akan diajarkan. Karena pembelajaran akan lebih efektif  bila pola atau model yang digunakan sesuai dengan kondisi, potensi, serta karakter peserta didik.
Model pembelajaran merupakan konsep atau pola yang dirancang oleh guru dalam pembelajaran yang disesuaikan kondisi, potensi, dan karakter peserta didik yang berbeda-beda. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan menghasilkan pola pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran yang baik akan menghasilkan pencapaian hasil belajar yang optimal dan memuaskan.
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran berkelompok sehingga memberi keuntungan dalam mengajarkan kepada peserta didik tentang arti kerja sama, saling menghormati, sikap demokratis, dan toleran dalam situasi belajar. Hal itu yang menjadikan model pembelajaran ini perlu dikaji secara mendalam dalam sebuah kajian psikologi pendidikan.
Pemahaman guru tentang model pembelajaran kooperatif sangatlah penting, sehingga guru mampu menghasilakan pembelajaran yang efektif sesuai dengan perkembangan dan psikologi belajar pada anak. Namun faktanya banyak guru yang kurang memahami hakikat  model pembelajaran tersebut secara komprehensif sebagai model pembelajaran yang memberi pengaruh terhadap psikologi belajar siswa. Hal itulah yang melatarbelakangi penulis untuk memaparkan hasil kajian psikologi yang berjudul  Model Pembelajaran Kooperatif  dan Pengaruh Psikologis Pada Siswa Dalam Proses Belajar Dalam Kajian Psikologi.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah pembelajaran kooperatif  bila dikaji dengan teori psikologi?
2.      Bagaiamanakah  pengaruh pembelajaran kooperatif  terhadap psikologis belajar siswa dari sudut pandang teori psikologi pendidikan?
1.3  Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui makna pembelajaran kooperatif bila dikaji dengan teori psikologi.
2.      Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap psikologis siswa dari sudut pandang teori psikologi pendidikan?

BAB II
 Model Pembelajaran Kooperatif  dan Pengaruh Psikologis Pada Siswa Dalam Proses Belajar Dalam Kajian Psikologi.

2.1.  Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Belajar  
Dalam proses belajar ada kalanya gagal dan ada kalanya menghasilkan hasil yang memuaskan, dan semua itu tidak terlepas dari berbagai pengaruh yang mempengaruhi proses belajar pada siswa sehingga hasilnya tidak optimal. Dalam hal ini, seorang guru yang kompeten diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka.
Secara umum, Muhibin Syah (1999: 130) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam, yakni:
1.      faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/ kondisi jasmani dan rohani siswa;
2.      faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa;
3.      faktor pendekatan belajar siswa (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
1.      Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang meliputi dua aspek, yaitu aspek fisiologis (aspek jasmaniah) dan aspek psikologis (aspek rohaniah).
 Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terha­dap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.
Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra. Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia, sehingga manusia dapat mengenal dunia luar. Pancaindra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa perlu menjaga pancaindra dengan baik, baik secara preventif maupun yang,bersifat kuratif, dengan menyediakan sarana belajar yang memenuhi persyaratan, memeriksakan kesehat­an fungsi mata dan telinga secara periodik, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan lain sebagainya.
2.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal siswa juga terdiri atas dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
a.       Faktor Lingkungan Sosial, yakni faktor yang berhubungan dengan lingkungan masyarakat di mana terjadinya interaksi sosial.
·         Lingkungan sosial keluarga.
Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
·         Lingkungan sosial sekolah
Seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan memahami bakat yang dimili­ki oleh anaknya atau peserta didiknya, antara lain dengan mendukung, ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakat­nya.
·         Lingkungan sosial masyarakat.
Kondisi lingkungan masya­rakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengang­guran dan anak telantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memer­lukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.
b.      Lingkungan Non-Sosial
   Faktor-faktor yang termasuk lingkung­an nonsosial adalah:
·         Lingkungan alamiah
Seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupa­kan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat.
·         Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapang­an olahraga. Contohnya, letak sekolah atau tempat belajar harus memenuhi syarat-syarat seperti di tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.
·         Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa).
Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembang­an siswa, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru harus mengua­sai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.
3.      Faktor Pendekatan Belajar
Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi psikologis cara belajar anak, yaitu faktor Internal siswa, eksternal, dan faktor pendekatan belajar. Faktor pendekatan belajar merupakan faktor yang bisa kita usahakan dalam sebuah proses pembelajaran. Karena hanya melalui faktor ini eksistensi guru terhadap pendidikan dan pembelajaran anak bisa dengan jelas terlihat. Muhibin syah (1999:130) menjelaskan bahwa faktor pendekatan belajar siswa (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
Faktor pembelajaran merupakan upaya belajar siswa yang bisa meliputi strategi, teknik, metode, dan model pembelajaran tertentu yang dipilih untuk mempermudah memahami dan mengusai kopetensi dan materi pembelajaran.
Menurut Ahmadi, dkk. (2011:17) bahwa faktor  pendekatan belajar adalah cara yang digunakan atau strategi yang digunakan untuk menunjang efektifitas dan efesiensi belajar atau dapat didefinisikan sebagai perangkat operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan belajar.
Pendekatan belajar atau lebih dikenal dengan istilah model, metode, strategi, atau model pembelajaran adalah perangkat operasional yang mampu direkayasa oleh guru untuk mengefektifkan pembelajaran, sehingga tujuan belajar tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
     Menurut Sardiman AM (Ahmadi, dkk.,2011:17) faktor yang mempengaruhi belajar siswa dikelompokkan menjadi 2, yaitu: 1. faktor dari dalam subjek belajar; 2. faktor dari luar subjek belajar. Faktor dari luar subjek belajar salah satunya adalah pendekatan belajar sebagai cara belajar siswa dalam mempelajari materi pembelajaran. Sehingga faktor ini dianggap penting dan mesti diperhatikan guru, guna menjadikan siswa mudah memahami materi dan mampu mencapai tujuan yang ingin dicapai.
2.2.  Konsep Dasar Model Pembelajaran 
Pembelajaran pada awalnya disebut dengan istilah mengajar. Menurut Woolfolk (Sukartawi,1995:32) mengajar itu adalah seni, ilmu pengetahuan dan sekaligus juga suatu pekerjaan yang memerlukan waktu yang banyak. Mengajar dikatakan “seni” (art), karena mengajar itu membutuhkan inspirasi, intuisi, bakat dan kreativitas.
Mengajar dikatakan pula sebagai “ilmu pengetahuan” (science), karena dalam mengajar itu diperlukan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan (bahan ajar) yang diberikan dan juga penguasaan terhadap keterampilan di dalam memberikan bahan ajar tersebut.
Seiring dengan kemajuan zaman yang terus berkembang dari hari ke harinya, ternyata dunia pendidikan juga mengikuti arus perkembangan zaman itu. Salah satu perkembangan itu ditunjukkan dengan dihadirkannya banyak model-model pembelajaran yang biasa diterapkan saat ini. Seorang pengajar memerlukan keahlian dalam memilih dan melaksanakan cara mengajar yang terbaik  agar ilmu pengetahuan dapat disampaikan dengan baik, sehingga siswa dapat menerimanya dengan baik pula. Cara mengajar  yang memiliki kekhas-an inilah yang disebut model pembelajaran. Menurut Suyatno model pembelajaran  adalah  bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas (2009: 25-26).
Beberapa model pembelajaran ini diterapkan guru saat mengajarkan sesuatu kepada muridnya dengan tujuan agar pesan dari materi pembelajaran itu sendiri tersampaikan dengan mudah. Model pembelajaran yang sudah ada sejauh ini terbukti bisa sangat membantu pekerjaan para guru dikarenakan para siswa dapat mengerti, tahu, dan paham sebuah pelajaran dengan lebih mudah .
Model pembelajaran merupakan konsep atau pola yang dirancang oleh guru dari awal sampai akhir yang memiliki teknik-tenik dan sintaks yang berbeda-beda satu model dengan model lain. Teknik dan sintaks (langkah/prosedur) yang berbeda inilah yang membedakan model pembelajaran yang satu dengan model pembelajaran yang lain.
 Pengertian Model Pembelajaran dapat diartikan sebagai cara, contoh maupun pola, yang mempunyai tujuan meyajikan pesan kepada siswa yang harus diketahui, dimengerti, dan dipahami yaitu dengan cara membuat suatu pola atau contoh dengan bahan-bahan yang dipilih oleh para pendidik/guru sesuai dengan materi yang diberikan dan kondisi di dalam kelas. Suatu model akan mempunyai ciri-ciri tertentu dilihat dari faktor-faktor yang melengkapinya
Kemampuan guru dalam memilihan model pembelajaran yang tepat menjadi sebuah keharusan untuk mencapai ketercapaian tujuan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran harus dilandasi beberapa pertimbangan. Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan model pembelajaran dapat diterapkan secara efektif dan menunjang keberhasilan belajar siswa.
Seorang guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam proses pembelajaran yang dijalaninya. Menurut Sardiman A. M. (2004 : 165), guru yang kompeten adalah guru yang mampu mengelola program belajar-mengajar. Mengelola di sini memiliki arti yang luas yang menyangkut bagaimana seorang guru mampu menguasai keterampilan dasar mengajar, seperti membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya, memberi penguatan, dan sebagainya, juga bagaimana guru menerapkan strategi, teori belajar dan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
Pendapat serupa dikemukakan oleh Colin Marsh (1996 : 10) yang menyatakan bahwa guru harus memiliki kompetensi mengajar, memotivasi peserta didik, membuat model instruksional, mengelola kelas, berkomunikasi, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasi. Semua kompetensi tersebut mendukung keberhasilan guru dalam mengajar.
Jika membahas tentang beberapa contoh dari model-model pembelajaran itu sendiri, ada beberapa model yang sudah tidak asing lagi dengan kita, namun beberapa diantaranya juga merupakan model baru yang baru diterapkan dalam dunia pendidikan. Beberapa contoh model pembelajaran yang sudah umum diketahui yaitu metode ceramah, diskusi, studi kasus, demonstrasi, dan lain sebagainya. Sedangkan beberapa model pembelajaran yang masih terbilang asing tidak lain adalah Contextual Teaching and Learning (CTL), Cooperative Learning (CL), Problem Based Learning (PBL), Pembelajaran bersiklus (Cycle Learning), Realistic Mathematic Education (RME), Open Ended (OE) yang dalam bahasa Indonesianya juga disebut sebagai metode problem terbuka, dan masih banyak lagi lainnya.
2.3.  Model Pembelajaran Kooperatif dalam Kajian Psikologi Pendidikan
Model pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran berkelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan belajar kooperatif, seperti dijelaskan abdulhak (Rusman, 2011: 203) bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga mewujudkan pemahaman bersama diantara peserta didik itu sendiri.
Muhibbin (1999:35) Juga menjelaskan bahwa seperti dalam proses-proses perkembangan lainnya, proses perkembangan sosial dan moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Sehingga proses belajar yang lebih mengedepankan asas kerjasama seperti model pembelajaran kooperatif memiliki pengaruh yang bersar terhadap perkembangan sosial dan moral siswa apabila diterapkan dengan serius dan benar.
 Menurut Taniredja, dkk. (2011:55) dari sudut filosofis menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Model pembelajaran kooperatif memberikan kebebasan peserta didik untuk bekerja sama menyelesaikan tugas yang diberikan guru pada masing-masing kelompok.
Nurhayati (Rusman, 2011: 203) juga menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam suatu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Siswa dalam model kooperatif bisa bekerjasama dengan anggota lain, sehingga dalam model ini siswa bertanggung jawab yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota untuk belajar.
Model pembelajaran koperatif  merupakan pola belajar dalam kelompok. Namun , model koperatif memiliki kekhasan yang membedakan dengan pola belajar kelompok yang biasa. Menurut pendapat lie,A.(2008: 29) bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif  memiliki unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang asal-asalan.
Cooperatif  learning  juga dapat diartikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan di antara sesama anggota kelompok (Solihatin, E., dan Rahardjo, 2007: 4). Sehingga pembelajaran kooperatif memberiakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak dalam mengembangkan potensinya dalam kelompok belajar dengan mementingkan sikap sosial yang penuh kebersamaan.
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang hakikatnya mementingkan unsur-unsur kemanusian dalam hubungan sosial dalam mempelajari sesuatu dan menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama dalam sebuah kelompok.

2.4.   Model Pembelajaran Kooperatif  dan Pengaruhnya  Terhadap Psikologis Siswa dalam Belajar
       Perkembangan sosial, moral dan psikologis siswa tidak terlepas dari pengaruh interaksi sosial saat siswa berada dalam situasi belajar di sekolah. Muhibbin (1999:35) juga menjelaskan bahwa seperti dalam proses-proses perkembangan lainnya, proses perkembangan sosial dan moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Begitu juga model pembelajaran tertentu secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan sosial, moral dan psikologis siswa, tidak terkecuali dengan model pembelajaran kooperatif.
Menurut Taniredja, dkk. (2011:55) dari menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Sedangakan menurut pendapat lie,A.(2008: 29) bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif  memiliki unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang asal-asalan.
Cooperatif  learning  juga dapat diartikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan di antara sesama anggota kelompok (Solihatin, E., dan Rahardjo, 2007: 4). Pembelajaran Koperatif ini mengajarkan proses bekerja sama dan interaksi sosial di dalam kelompok belajar, sehingga siswa dilatih untuk terbiasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sebayanya.
Model pembelajaran koperatif lebih mengedepankan prinsip saling bergantungan dan kerja sama. Johnson (2011:75) prinsip saling-bergantungan menuntun pada penciptaan hubungan, bukan isolasi. Sehingga model pembelajaran koperatif mampu menciptakan hubungan yang akrab tanpa memisahkan siswa yang satu dengan yang lain, sehingga akan tumbuh rasa saling membantu dan menghargai dalam proses menguasai materi dalam pembelajaran di kelas.
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang hakikatnya mementingkan unsur-unsur kemanusian dalam hubungan sosial dalam mempelajari sesuatu dan menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama dalam sebuah kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif siswa dapat saling berinteraksi satu sama lain, dan siswa mampu membuat kesepakatan dalam mengambil keputusan secara bersama-sama. Hal itu menjadikan pembelajaran menanamkan pada diri siswa untuk memiliki sikap sosial yang tinggi dan menumbuhkan karakter santun, saling menghormati, gotong-royong, dan belajar berdemokrasi dalam kelompok belajar masing-masing.
Model kooperatif sangat intens mengarahkan siswa untuk mandiri dalam berfikir dalam kelompok dan berinteraksi dalam menyelesaikan masalah dan mempelajarinya. Sehingga secara psikologis, model koperatif ini mampu mengarahkan sikap optimis, percaya diri, dan mengajarkan kepada anak untuk berkomunikasi secara santun ketika menyatukan perbedaan pendapat dengan siswa lain di anggota kelompok belajarnya.
Model kooperatif menumbuhkan sikap demokratis, gotong royong, dan toleran. Sehingga siswa lebih berkembang keberaniannya untuk hidup dalam lingkungan sosial dan menumbuhkan sikap dan prilaku sosial yang baik. Sikap demokratis ini akan tumbuh ketika siswa harus memusyawarahkan hasil berfikir masing-masing untuk disatukan dalam satu kesimpulan dan mufakat bersama. Meraka akan meraskan suasana yang demokratis dan saling mengahrgai satu sama lain, ketika dalam kelompoknya harus dituntut untuk gotong royong dan saling mengerti satu sama lain, dalam hal pembagian tugas misalnya.
Tom V. Savage (Rusman, 2011:203) megemukakan bahwa cooperatif learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerjasama dalam kelompok. Ketika suatu pembelajaran menekankan kerjasama dalam kelompok ini dilaksanakan maka kemampuan siswa akan merata, dan memiliki rasa kebersamaan yang baik, dan memberikan dampak positif bagi anggota tiap kelompok terutama dalam hubungan mereka yang lebih akrab dan toleran.    Johnson (2011: 73) menjelaskan bahwa dengan bekerja sama, para siswa terbantu dalam menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah. Bekerja sama akan membantu mereka mengetahui bahwa saling mendengarkan akan menuntun pada keberhasilan.
Model kooperatif juga memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa dalam berinteraksi dan berkomunikasi yang baik, seperti berbagi tugas, aktif  bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, dan bekerja dalam kelompok. Sehingga pada akhirnya pembelajaran kooperatif membentuk siswa untuk lebih baik dalam prestasi akademis dan  mengemabangkan keterampilan sosial diri siswa dalam kehidupan bermasyarakat, dan secara tidak langsung mengembangankan kecerdasan emosional siswa dalam berinteraksi dengan kawan belajarnya. Taniredja dkk. (2011:60) menjelaskan bahwa tujuan penting dari pembelajaran kooperatif ialah untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain membantu (Trianto, 2011: 56). Hal itu, menunjukan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan belajar yang memadukan beberapa faktor yang mempengaruhi belajar siswa baik faktor internal siswa (meningkatkan optimalisasai potensi dan kondisi fisik, intelegensi, sikap, minat, bakat, dan motivasi siswa), faktor eksternal siswa (mengutamakan pada kerja sama dan interaksi sosial dalam belajar), faktor pendekatan belajar (strategi belajar efektif dengan memecahkan masalah secara bersama).
Model pembelajaran kooperatif juga mengajarkan siswa untuk tidak indivudualis dalam kehidupan bermasyarakat. Siswa akan lebih memiliki sikap sosial yang tinggi ketika harus membantu teman yang lain untuk menguasai materi dan memecahkan tugas secara bersama. Sehingga secara psikologis beban siswa dalam memecahkan tugas semakin berkurang dan memudahkan siswa memahami materi secara bersama-sama. Hal tersebut menjadikan pembelajaran kooperatif menjadi faktor yang menunjang keefektifan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Proses demokrasi dan peran aktif merupakan ciri yang khas dari pembelajaran kooperatif (Trianto, 2011: 56). Hal itu menunjukan bahwa pembelajarn kooperatif tidak hanya memberikan peran aktif kepada siswa dalam pembelajaran, tetapi juga memberikan pembelajaran tentang proses demokrasi dalam kehidupan sosial. Dari proses demokrasi tersebut pengalaman berkomunikasi siswa berkembang karena proses negosiasi terjadi secarara intens dan berkesinambungan, sehingga berdampak juga pada perkembangan sikap dan psikologis berkomunikasi siswa.
Selama dalam pembelajaran siswa tetap belajar kelompok selama beberapa pertemuan. Mereka diajarkan keterampilan khusus agar bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar aktif, memberikan penjelasan kepada kelompoknya dengan baik, berdiskusi, dan sebagainya. Tugas anggota kelompok adalah memuntaskan materi yang diberikan guru dan membantu teman sekelompoknya dalam memahami materi.
Belajar belum tuntas  jika salah satu anggota kelompok ada yang belum menguasai materi pelajaran. Sehingga dalam model pembelajaran kooperatif ini sikap saling tenggang rasa, toleran, dan saling membantu semakin tumbuh dan berkembang sebagai potensi sosial yang sangat berharga dalam pembentukan karakter dan moral siswa. Siswa pun akan semakin mampu mengendalikan diri sehingga kecerdasan emosi semakin terlatih dengan baik. Hal itulah yang menjadikan model pembelajaran kooperatif mampu menjadikan peserta didik bisa saling membantu teman sekelompoknya untuk mengasai materi yang belum dikuasai, sehingga ketuntasan pembelajaran juga bisa tercapai.
Perkembangan psikolososial atau disebut juga perkembangan sosial siswa akan berkembang dengan adanya pembelajaran yang berbasis kelompok belajar.  Perkembangan psikososial menurut Muhibbin (1999:35) adalah proses perkembangan kepribadian siswa selaku anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Sehingga dengan model kooperatif ini di harapkan kepribadian siswa  akan tumbuh sesuai kebutuhannya nanti, ketika berinteraksi langsung di lingkungan masyarakatnya. Muhibbin (1999:35) juga menjelaskan bahwa seperti dalam proses-proses perkembangan lainnya, proses perkembangan sosial dan moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Sehingga

  
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1   Simpulan
1.      Pendidikan berkarakter moral adalah kunci untuk perbaikan sosial dan kemajuan peradaban bangsa yang menjunjung tinggi integritas nilai dan kemanusiaan.
2.      Model pembelajaran Kooperatif adalah model pembelajaran yang lebih mengutamakan kerja sama dalam sebuah kelompok sehingga mampu mempengaruhi peningkatan kemampuan siswa dalam menguasai dan memahami materi pembelajaran.
3.      Model pembelajaran kooperatif mampu menjadikan peserta didik bisa saling membantu teman sekelompoknya untuk mengasai materi yang belum dikuasai, sehingga ketuntasan pembelajaran juga bisa tercapai.
4.      Model pembelajaran kooperatif adalah wujud nyata dari pendidikan karakter di kelas, karena memberikan banyak pengalaman belajar yang mementingkan hubungan kerja sama antar siswa dalam kelompok, mengajarkan kepada siswa arti dari perbedaan, kekompakan, toleran, praktik demokrasi, dan saling membantu.
5.      Model pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa untuk tidak indivudualis dalam kehidupan bermasyarakat. Siswa akan lebih memiliki sikap sosial yang tinggi ketika harus membantu teman yang lain untuk menguasai materi dan memecahkan tugas secara bersama
6.      Dalam model pembelajaran kooperatif,  sikap saling tenggang rasa, toleran, dan saling membantu siswa semakin tumbuh dan berkembang sebagai potensi sosial yang sangat berharga dalam pembentukan karakter dan moral siswa. Siswa pun akan semakin mampu mengendalikan diri sehingga kecerdasan emosi semakin terlatih dengan baik, sehingga membantu perkembangan psikologis pada anak secara optimal.
7.      Perkembangan psikolososial siswa atau disebut juga perkembangan sosial  akan berkembang dengan adanya pembelajaran yang berbasis kelompok belajar seperti pembelajaran pada model kooperatif.
3.2  Saran
1.      Model pembelajaran kooperatif adalah pola belajar yang mampu mendukung tumbuh kembangnya potensi sosial anak, sehingga model kooperatif ini layak diterapkan di dalam kelas.
2.      Sebagai tenaga pengajar, guru harus lebih mendalami model-model pembelajaran yang memicu kecerdasan emosional anak, seperti model pembelajaran kooperatif, sehingga guru memiliki andil dalam membentuk kepribadian dan karakter siswa.
3.      Perlunya penelitian dan kajian lagi tentang model pembelajaran dari sisi kajian psikologi, agar guru semakin memiliki wawasan yang dalam dari metode pembelajarn serta manfaat yang bisa diambil dari metode tersebut.



 




Makalah Perbandingan Puisi



Contoh Makalah Perbandingan Puisi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Karya sastra lahir sebagai bagian dari masyarakat, sebagai cermin dan sekaligus miniatur dari budaya dan kehidupan sosial di masyarakat. Ratna (2013:33) menjelaskan bahwa karya seni bersumber dalam masyarakat, dalam konfigurasi status dan peranan yang terbentuk dalam struktur sosial, dan sendirinya menerima pengaruh sosial.
Karya sastra lahir dalam sebuah masysarat sebagai bentuk komunikasi pengarang dengan lingkungan sosialnya. Karya sastra merupakan cara berkomunikasi yang khas yang dibuat sebagai bentuk seni dan memiliki makna yang ingin disampaikan kepada masyarakat pembacanya.
  Puisi merupakan salah satu genre sastra juga merupakan alat komunikasi yang digunakan bagi pengarangnya untuk berkomunikasi terhadap lingkungan masyarakatnya. Puisi yang terlahir pada zaman tertentu selalu mencoba menggambarkan suasana dan kondisi masyarakatnya.
Puisi sebagai karya sastra tidak bisa terlepas dari pengaruh budaya dan konteks sosialnya, dan apabila dua pengarang yang berbeda mengarang puisi maka karyanya juga memiliki hubungan baik pertentangan atau persamaan dalam memahami dan menanggapi suata hal. Pertentangan atau persamaan ini akan mengasilkan sebuah dialektika antra dua puisi yang berbeda, dari dua pengarang yang berbeda pula. Riffaterre (Pradopo, 1995:167) menjelaskna bahwa sajak baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan sajak lain. Hubungan ini dapat berupa persamaan dan pertentangan.
Hubungan pertentangan pada puisi Indonesia modern dapat terlihat pada puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamjah dengan puisi “Doa” karya Chairil Anwar.  Pertentangan kedua pengarang pada puisi-puisi tersebut sangatlah menarik, kedua sama-sama memiliki tanggapan dan konsepsi yang berbeda terhadap pengambaran wujud Tuhannya. Puisi- puisi Chairil Anwar merupakan penentang terhadap konvensi estetik dan tradisi kepuisian sajak-sajak Pujangga Baru dan sajak lama, yang tertampak jelas terwakili oleh sajak-sajak Amir Hamzah. Sedangkan puisi-puisi Amir Hamzah adalah sajak-sajak yang sufistik dan memiliki tradisi religius yang tinggi, sehingga sangat menarik bila dibandingkan dengan puisi Chairil Anwar guna memperkaya makna dari kedua puisi tersebut.  Hal itulah yang melatarbelakangi penulis untuk memaparkan hasil kajian  perbandingan sastra yang berjudul Perbandingan Puisi “Padamu jua” Karya Amir Hamjah Dengan Puisi “ Dosa” Karya Chairil Anwar Dalam kajian Dialektika Tentang Konsepsi Tuhan

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah kosepsi Tuhan yang terkandung dalam puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah dan puisi “Doa” Karya Chairil Anwar?
2.      Bagaiamanakah hubungan persamaan antara puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah dan puisi “Doa” Karya Chairil Anwar?
3.      Bagaimanakah hubungan pertentangan antara puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah dan puisi “Doa” Karya Chairil Anwar?
1.3 Tujuan Penelitian
      1.  Untuk mengetahui konsepsi Tuhan  yang terkandung dalam puisi “Padamu    Jua” karya Amir Hamzah dan puisi “Doa” Karya Chairil Anwar.
      2.  Untuk mengetahui hubungan persamaan antara puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah dan puisi “Doa” Karya Chairil Anwar.
      3.  Untuk mengetahui hubungan pertentangan antara puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah dan puisi “Doa” Karya Chairil Anwar.


BAB II
Perbandingan Puisi “PADAMU JUA” Karya Amir Hamjah
Dengan Puisi “ DOA” Karya Chairil Anwar
Dalam kajian Dialektika Tentang Konsepsi Tuhan
1.      Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, karena objek yang diteliti merupakan data kualitatif  berupa teks verbal, dalam wacana yang terkandung dalam puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah dan puisi “Doa” karya Chairil Anwar. Data dari penelitian ini diperoleh dari kedua teks puisi , yaitu “Padamu Jua” dan “Doa”. Data itu bersumber dari teks “Padamu Jua” karya Amir Hamzah dan teks puisi “Doa” karya Chairil Anwar. Data itu berupa kata, kalimat, ungkapan yang terdapat di dalam “Padamu Jua” dan “Doa”. Data tersebut merupakan unsur-unsur pembentuk intertekstualitas dalam kedua puisi yang dikaji, dimana dari kedua puisi tersebut bisa didapatkan unsur-unsur yang bisa dibandingkan dan diambil persamaan dan pertentangannya dalam sebuah dialektika.
Analisis data menggunakan metode intertekstual dan metode perbandingan. Dengan analisis intertekstual dapat terlihat hubungan intertekstual kedua puisi tersebut, sehingga nantinya akan membantu mengetahui  persamaan dan pertentangan kedua puisi tersebut dari data hasil analisis intertekstual itu setelah melalui metode perbandingan. Riffaterre (Pradopo, 1995:167) menjelaskna bahwa sajak baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan sajak lain. Hubungan ini dapat berupa persamaan dan pertentangan.
Metode perbandingan dilakukan dengan cara membandingkan unsur-unsur yang ada dalam kedua puisi tersebut, sehingga mendapatkan karakteristik dan konvensi masing-masing puisi,serta diketahui pula persamaan dan pertentangannya.
2.      Hasil dan Pembahasan
2.1.Transformasi Puisi “Padamu Jua” dalam puisi “Doa”
Sebuah karya sastra lahir dalam sebuah masysarat sebagai bentuk komunikasi pengarang dengan lingkungan sosialnya. Karya sastra merupakan cara berkomunikasi yang khas yang dibuat sebagai bentuk seni dan memiliki makna yang ingin disampaikan kepada masyarakat pembacanya.
Untuk mendapatkan makna sepenuhnya itu dalam menganalisis tidak boleh dilepaskan karya sastra dari konteks sejarah dan konteks sosial budayanya. Dalam hubungan pembicaraan interkontekstualitas ini berkenaan dengn konteks sejarah sastranya (Pradopo,1995:167).
Sebuah karya sastra yang dibuat oleh dua pengarang yang berbeda, baik puisi maupun prosa ada kalanya memiliki hubungan satu sama lain baik pertentangan atau persamaan, hal itu diakibatkan karena karya tersebut terlahir pada zaman yang sama, di mana zaman dan konteks sosial budaya telah memberikan pengaruh terhadap proses kreatif dari penciptaan karya sastra tersebut. Teeuw (Pradopo,1995: 167) mengatakan bahwa karya sastra ini tidak lahir dalam situasi kosong kebudayaan. Oleh karena itu, sastra tidak bisa terlepas dari pengaruh budaya dan konteks sosialnya, dan apabila dua pengarang yang berbeda mengarang puisi atau prosa maka karyanya juga memiliki hubungan baik pertentangan atau persamaan dalam memahami dan menanggapi suata hal.
Hubungan pertentangan pada puisi Indonesia modern dapat terlihat pada puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamjah dengan puisi “Doa” karya Chairil Anwar. Puisi Chairil Anwar merupakan penentang terhadap konvensi estetik dan tradisi kepuisian sajak-sajak Pujangga Baru dan sajak lama, yang tertampak jelas terwakili oleh sajak-sajak Amir Hamzah.
Di antara sastrawan-sastrawan Pujangga Baru, nama Amir Hamzah tentu paling dikenal dalam bidang puisi. Hal ini tidak lepas juga dari gelar yang telah dilekatkan padanya oleh Paus Sastra Indonesia, H. B. Jassin sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Melihat salah satu puisi Amir Hamzah berjudul Padamu Jua di atas, kita tidak bisa melepaskannya dari ciri khas Amir Hamzah yang suka mengangkat tema-tema agama. Kesukaannya dengan hal-hal berbau sufistik juga mengingatkan kita pada Hamzah Fansuri, peletak dasar puisi modern di Indonesia.
Sedangkan  Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian (http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar ). Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.
Padamu Jua adalah puisi yang mengisahkan tentang pertemuan dua orang kekasih yang telah lama terpisah, yaitu antara aku lirik dengan kekasihnya. Puisi ini banyak menggunakan bahasa simbol dengan konotasi positif, seperti kandil, pelita, sabar, setia, dara. Selain itu banyak juga digunakan kata-kata berkonotasi negatif, seperti kikis, hilang, cemburu, ganas, cakar, lepas, nanar, sasar, sunyi. Kata-kata tersebut dapat membantu kita untuk memahami maksud dari puisi tersebut. Oleh karena itu, saya menafsirkan pertemuan yang dimaksud adalah pertemuan yang abadi, yaitu setelah kematian aku lirik. Sedangkan kekasih yang dimaksud adalah Tuhan aku lirik yang selalu mencintainya walupun aku lirik telah berpaling dari-Nya.

PADAMU JUA
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali kepadamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu-bukan giliranku
Matahari bukan kawanku..
Karya Amir Hamzah  (Nyanyian Sunyi, 1959:5)

Puisi Doa memiliki kekuatan pesan religi yang cukup kental, lirik liriknya secara jelas dan transparan, memberikan pesan spiritual kepada makhluk tuhan untuk menjadikan Tuhan sebagai muara akhir segenap persoalan hidup. Chairil Anwar menegaskan bahwa tak ada solusi lain dalam hidup ini selain mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan itu sendiri.

Manusia kerap lelah dalam menjalani hidup dengan segunung permasalahan, hingga terkadang manusia tersebut gagal menjadi seorang makhluk yg hidup bahagia dimuka bumi. Segalanya terpulang kepada Tuhan, Tak ada gunanya segenap apa yang kita miliki jika kita melupakan Tuhan.

Dalam puisi Doa dapat terlihat sekali mengandung nilai spiritual yang tinggi. Puisi ini ditujukan kepada pemeluk teguh yang tidak lain adalah orang yang berkeyakinan akan kebesaran Tuhannya. Seorang hamba yang selalu mengingat Tuhannya, selalu berharap akan rahmat dari Tuhannya dan mengungkapkan pertemuan ke jalan Tuhan. Puisi ini menggambarkan perasaan seorang hamba yang penuh penyerahan kepada Tuhannya. Dalam pernyataannya yang tersuram sekalipun seperti kalimat terakhir tetap mencerminkan rasa hampa namun juga rasa syukur yang takdiakui.

DOA
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin
Di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri
Tuhanku
Di pintu-Mu mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Karya Chairil Anwar (Deru Campur Debu, 1959:13)

Berikut ini perbandingan dan intertekstualitas puisi “Padamu Jua”  karya Amir Hamzah dengan “Doa” karya Chairil Anwar
Puisi  Doa karya Chairil Anwar menunjukan adanya persamaan dan pertalian dengan sajak  Padamu Jua. Ada  gagasan dan ungkapan Chairil Anwar yang dapat dirunut kembali dalam sajak Amir Hamzah tersebut. Kedua puisi tersebut juga memiliki ide yang hampir sama, meskipun cara mengekspresikannya berbeda dan menunjukan kepribadiannya masing-masing dalam menanggapi masalah yang dihadapi.
Dalam puisi  Padamu Jua  si aku yang habis kikis dengan pasti kembali kepada-Mu, yaitu Tuhan, meskipun pada awalnya kecewa karena ia merasa dipermainkan oleh Engkau. Namun akhirnya ia tak mau pergi lagi karena Engkau sebagai dara dibalik tirai, sangat menariknya, menanti si aku seorang diri dengan setia.
Dalam puisi Doa, si aku yang terasing dalam kebingungannya meskipun pada mulanya termangu, toh akhirnya ia datang juga kepada Tuhan karena Tuhan itu penuh seluruh (Maha Rahman dan Maha Rahim). Tak ada tempat lain untuk mengadukan keremukan bentuknya (wujud hidupnya) selain Dia. Maka, setelah aku mengetuk pintu kerahamanan dan kerahimannya, si aku tidak bisa berpaling lagi.
Amir Hamzah  menggambarkan Tuhan (Engkau) sebagai kandil (lilin) kemerlap. Ini ditarnformasikan Chairil dalam Doa, sifat Tuhan sebagai “kerdip lilin di kelam sunyi”.
Si aku dalam sajak Amir Hamzah ragu-ragu karena tidak dapat menangkap wujud Engkau: Aku manusia/ Rindu Rupa/ Di mana Engkau/ Rupa tiada/ Suara sayup-sayup/ Hanya kata merangkai hati//. Bahkan si aku merasa dipermainkan: Engkau cemburu/ Engkau ganas/ Mangsa aku dalam cakarmu/Bertukar tangkap dengan lepas//. Hal ini ditransformasikan Chairil: Tuhanku/ Dalam termangu aku masih menyebut nama-Mu/ Biar susah sungguh mengingat kau penuh seluruh//. Penderitaan si aku dalam sajak Amir Hamzah (bait ke-3,4,5) ditransformasikan Chairil Anwar: Tuhanku/ Aku hilang bentuk/ Remuk/..../Aku mengembara di negeri asing//.
Meskipun demikian si aku (Amir Hamzah) kembali juga pada Engkau (Tuhan), kekasihnya: Nanar aku, gila sasar/ Sayang berulang padamu jua/Engkau pelik menarik ingin/ Serupa dara di balik tirai// Kasihmu sunyi/ menunggu seorang diri/. Ini ditransformasikan Chairil Anwar dalam “Doa”: Tuhanku/ aku mengembara di negeri asing// Tuhanku/ di pintu-Mu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.
Meskipun ada persamaan ide antra kedua sajak tersebut, namun pelaksanaannya, yaitu pengekspresiannya, berbeda, menyebabkan hasilnyapun berbeda. Hal ini di sebabkan oleh adanya perbedaan tanggapan terhadap Tuhan (wujud Tuhan).
Amir Hamzah menanggapi wujud Tuhan sebagai kekasih. Tuhan dianthropomorfismekan diwujudkan sebagai manusia: kekasih, gadis. Dengan demikian, kiasan-kiasannya bersifat personifikasi dan romantis: Pulang kembali aku padamu/ seperti dahulu/...../Kaulah kandil kemerlap/ Melambai pulang perlahan/. Sabar , setia selalu//..../ Engkau pelik menarik ingin/ serupa dara dibalik tirai// Kasihmu sunyi/ menunggu seorang diri.
Amir Hamzah ingin menangkap wujud Tuhan seperti hal yang berbentuk wadag (kasar), Satu kekasihku/ aku manusia/ Rindu Rasa/ Rindu Rupa//. Yang diinginkan Amir Hamzah pertemuan dengan Tuhan sepereti halnya Nabi Musa: Hanya satu kutunggu hasrat/ serupa Musa di Puncak Tursina (Pada sajak “ Hanya Satu”). Tuhan digambarkan sebagai gadis yang pencemburu dan ganas (disini juga dugambarkan sebagai binatang buas: Harimau atau Garuda): Engkau cemburu/ Engkau ganas/ Mangsa aku dalam cakarmu/ Bertukar tangkap dengan lepas.
Hal tersebut di atas lain dari gambaran wujud Tuhan menurut konsepsi Chairil Anwar. Antara aku dan Engkau itu ada jarak. Kekuasaan Tuhan itu mutlak, ada hamba dan Tuhan. Maka Chairil Anwar tak memberinya bentuk manusia (Anthropmorfisme), melainkan hanya kekuasaan-Nya yang terasa. Tuhan memancarkan cahaya-Nya yang panas meskipun juga untuk menerangi hati manusia: Caya-Mu panas suci/ Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi// Dalam sajaknya “Di Mesjid” : Kuseru saja Dia/ sehingga datang juga// Kami pun bermuka-muka// Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada// Segala daya memadamkannya// Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda.
Jadi, betapa Maha Kuasa-Nya Tuhan, seperti api yang berkobar menyala-nyala yang membuat sia-sia si aku memadamkannya karena tidak mungkin. Manusia tidak dapat berbuat lain kecuali hanya berserah diri dan mengadukan nasibnya sebab hanya Dia tumpuan keluh dan tangis manusia: Tuhanku/ Aku hilang bentuk/ Remuk// Tuhanku/ Aku mengembara di negeri asing.
Dalam hal gaya berekspresi, Chairil Anwar mempergunakan gaya semacam Imagisme, yaitu gaya yang mengemukakan pengertian dengan citra-citra, gambaran-gambaran atau imaji-imaji: Tuhanku/ Aku hilang bentuk/ Remuk/..../Aku mengembara di negeri asing//. Dengan demikian, kata-kata dan kalimatnya ambigu, bertafsir ganda. Amir Hamzah mempergunakan citra-citra juga, tetapi tidak untuk mengemukakan pengertian, melainkan mengkonkretkan tanggapan. Kaulah kandil kemerlap/ pelita jendela dimalam gelap/ melambai pulang perlahan/ sabar, setia selalu/.../Engkau cemburu/Engkau ganas/ Mangsa aku dalam cakarmu/ Bertukar tangkap dengan lepas//. Di sini kata-kata dan kalimatnya tidak ambigu, bahkan mendekati kepolosan(Diafan).
2.2 Persamaan dan Pertentangan Puisi Padamu jua dengan Puisi Doa
Puisi “Doa” karya Chairil Anwar dan puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah, memiliki persamaan dan pertentangan bila dianalisis dari berbagai segi. Berikut analisis perbandingan unsur dari kedua puisi tersebut.
1.      Sense
·            Dalam puisi Amir Hamzah (“Padamu Jua”) persoalan secara umum yang di gambarkan dan diciptakan oleh penyair adalah seseorang yang merasa kehilangan cinta dari seorang kekasih, sehingga ia kembali pada Tuhan. Pertemuan dua orang kekasih yang telah lama berpisah (antara Aku dan Tuhan).
·          Chairil Anwar (“DOA”) persoalan secara umum yang di gambarkan dan diciptakan oleh penyair adalah seseorang yang selalu ingat pada Tuhan dalam keadaan apapun.
·         Perbedaan: Amir Hamzah (“Padamu Jua” ) mengisahkan bahwa Ia selalu ingat pada Tuhannya hanya pada saat ia merasa terpuruk dalam masalah atau saat ia sedih saja. Sedangkan Chairil Anwar (“DOA” ) mengisahkan bahwa Ia selalu ingat pada Tuhannya kapan pun baik saat senang atau pun saat sedih.
Persamaan: secara garis besar kedua puisi tersebut memiliki persamaan yaitu objek puisinya adalah Tuhan (sama-sama mngisahkan Tuhan).
2.       Subject Matter 
Amir Hamzah (“Padamu Jua”) pokok pikirannya:
·         Setelah seseorang merasa menderita dan sakit barulah ia ingat pada Tuhan/kembali pada Tuhan.
·         Menyatakan Tuhan adalah segalanya, yang menjadi penuntun hidup sang pengarang dan selalu setia mencintai manusia.
·         Mengisahkan seseorang yang rindu pada Tuhan. Seseorang yang mencari Tuhan, setelah ia menderita namun tidak pernah ia temukan karena Tuhan ada di hatinya.
·         Tuhan memberi cobaan yng bertubi-tubi agar sang Aku (pengarang) kembali pada-Nya.
·         Ia kembali pada Tuhan, namun banyak saja cobaan, ia merasa belum mendapat kebahagiaan tapi ia bertekat bahwa kesedihan tidak akan lagi mau ia rasakan.
Chairil Anwar (“DOA”) pokok pikirannya:
·          Dalam keadaan apapun selalu ingat Tuhan (baik susah, sedih, senang) dan kembali pada Tuhan
·         Ia merasa tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa.
·         Penyair menyatakan bahwa Tuhan adalah miliknya.
3.      Feeling
·         Amir Hamzah (“Padamu Jua”) sikapnya penyair terhadap pokok pikiran yaitu penyair merasa rindu dan membutuhkan Tuhan hanya saat dia sedih atau ada masalah saja.
·          Chairil Anwar (“DOA”) sikapnya penyair terhadap pokok pikiran yakni penyair merasa selalu membutuhkan Tuhan dalam keadaan apapun, baik saat sedih atau senang.
·         Perbedaan dari segi feeling: Amir Hamzah merasakan bahwa ia selalu merasa berubah, dia tidak tepat pendirian, kadang ingat pada Tuhan, tapi kadang melupakan Tuhan. Sedangkan Chairil Anwar merasakan bahwa ia selalu tepat pada pendiriannya, akhirnya ia tidak mudah melupakan Tuhan karena masa lalunya yang suram. Ia selalu ingat pada Tuhan.
·         Persamaan dari segi feeling: persamaan pada kedua puisi tersebut yaitu sama-sama mengisahkan kerinduan pengarang pada Tuhan dan ingin mendapatkan rahmat atau pengampunan dari Tuhan.
4.      Tone
·         Amir Hamzah: sikapnya terhadap pembaca yaitu selalu masa bodoh, karena ia seolah mengungkapkan perasaan atau curahan hatinya pada Tuhan, bukan pada pembaca. Ia masa bodoh terhadap pembaca, mau mengikutinya atau tidak.
·         Chairill Anwar: sikapnya terhadap pembaca yaitu masa bodoh tetapi pada puisi ini penyair berusaha meyakinkan pembaca bahwa kita harus selalu ingat pada Tuhan.
·         Perbedaan: pada puisi Amir Hamzah: ia secara tidak langsung ingin menunjukan kepada pembaca tentang segala masalahnya, dan bagaimana sesuatu yang ia rasakan itu bisa membuatnya berubah dan kembali pada Tuhan. Sedangkan pada puisi Chairil Anwar ia tidak begitu menampakkan segala sesuatu yang terjadi padanya karena ia merasa Tuhan yang mengetahuinya.
·         Persamaan: dari kedua puisi tersebut sama-sama masa bodoh terhadap pembaca.
5.      Totalitas Makna  
·         Amir Hamzah: makna keseluruhan yang tedapat pada puisinya yaitu: penyair merasa kehilangan dan kembali pada Tuhan karena Tuhan selalu menuntunnya kembali ke jalan yang benar (Tuhan). Ia merindukan Tuhan dan ingin kembali pada Tuhan tetapi banyak cobaan yang ia hadapi untuk mendapatkan kebahagiaan dari Tuhan. Namun ia bertekat untuk tidak akan lagi merasakan kesedihan.  
·         Chairil Anwar: makna keseluruhan yang terdapat dalam puisinya yakni ia selalu merasa ingat pada Tuhan dimanapun dan dalam keadaan apapun ia berada baik suka maupun dukan. Ia akan selalu berada di jalan yang benar atau yang ditunjukan oleh Tuhan.
·         Perbedaan: dari totalitas makna, pada puisi Amir Hamzah banyak mengungkapkan masalah yang ia hadapi sehingga kita kurang paham masalah yang sebenarnya. Sedangkan pada puisi Chairil Anwar hanya terarah pada satu atau beberapa persoalan sehingga mudah untuk dipahami.
·         Persamaan: dari totaliats makna , kedua puisi tersebut sama-sama ditujukan atau mengarah pada Tuhan.
6.       Tema
·         Amir Hamzah: Dosa dan pengharapan untuk kembali pada Tuhan (pertobatan).
·          Chairil Anwar: Doa seseorang yang selalu ingat akan Tuhan.
·         Perbedaan: dari segi tema, puisi Amir Hamzah lebih menekankan pada pertobatan sedangkan puisi Chairil Anwar lebih menekankan pada doa yang selalu ingat pada Tuhan.
·         Persamaan: dilihat dari tema, puisi tersebut sama-sama difokoskan atau sasarannya adalah pada Tuhan.
Dari analisis tersebut dapat diketahui pertentangan dan persamaan dari kedua puisi tersebut. Puisi Chairil Anwar yang berjudul “Doa” menentang terhadap konvensi estetik dan tradisi kepuisian sajak-sajak Pujangga Baru dan sajak lama, yang tertampak jelas terwakili oleh sajak “Padamu Jua” Amir Hamzah. Dalam puisi “Doa” Chairil Anwar tidak menggunakan lagi gaya bahasa yang mementingkan keindahan citraan konvensi estetik  terhadap tanggapannya terhadap konsep tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia, dia menentang konsep tentang Tuhan yang dicitrakan dalam puisi Amir Hamzah, yang menggambarkan tuhan dalam wujud seorang manusia (Kekasih) yang digambarkan memiliki emosi layaknya seorang yang penuh cinta dan cemburu layaknya manusia.


III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
1. Kosepsi Tuhan yang terkandung dalam puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah dan puisi “Doa” Karya Chairil Anwar ternyata memiliki perbedaan pada cara penyampaian rasanya
2. Ada hubungan persamaan antara puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah dan puisi “Doa” Karya Chairil Anwar?
5.     





Menghindari Doktrinasi Terorisme