Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Januari 2019

Janji Allah untuk Para Pendidik

Keutamaan Menjadi Guru


Menjadi guru adalah pilihan yang paling bijaksana, karena seorang guru bukan hanya sebagai sebuah profesi tetap sebagai pejuang merubah manusia menjadi lebih baik. Diantara keutamaan menjadi guru/pendidik, adalah: 

1) Memiliki sifat iffah (memelihara diri dari minta-minta), yang dihargai dan dihormati kedudukannya oleh Alloh. Dan Alloh perintahkan kepada para aqniya (murid/masyarakat/pejabat) memberikan perhatian khusus kepada mereka. {QS. Al-Baqarah (2): 273}. 

2) Alloh SWT memberi balasan untuk guru/pendidik yang mendidik dan mengajarkan kebaikan atau pelajaran yang bermanfaat, sama seperti orang-orang yang melakukannya. Rasululloh SAW bersabda: 

“ Barangsiapa yang mengunjukkan/mengajarkan kebaikan, pahalanya sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu “. (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud dalam Kitab Faidul Qadir, Juz. 6, Hal. 127, Penulis: Al-Imam Al-Manawy Rahimahulloh). 

3) Alloh SWT, para Malaikat, penghuni langit dan bumi bersholawat (mendo’akan) para pendidik yang mengajarkan kebaikan. Rasululloh SAW bersabda:

 “ Sesungguhnya Alloh, Malaikat-malaikat-Nya, penghuni langit dan penghuni bumi, hingga semut dalam lubangnya dan ikan dalam lautan, bersholawat (mendo’akan) para pendidik manusia kepada kebaikan “. (Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi’ Shaqar, Hal. 380). 




4) Para guru dan pendidik senantiasa akan mendapatkan pahala dari Alloh sebagai imbalan dari hasil pendidikan dan pembinaannya, meskipun dia sudah mati/wafat. Rasululloh SAW bersabda: 

“ Sesungguhnya dari antara amal dan kebaikan seorang Mukmin yang tetap dia peroleh pahalanya, walaupun dia sudah wafat, adalah: Ilmu yang diajarkan dan disebarluaskannya; anak yang shaleh yang ditinggalkannya; atau mushaf/pegangan misalkan buku-buku/ al-qur’an/kitab-kitab yang ditinggalkannya; atau masjid yang dibangunnya; atau rumah untuk ibnus sabil yakni anak yatim piatu/panti jompo yang dibangunnya; atau saluran air yang dibuatnya; atau shadaqah yang dikeluarkannya dari harta kekayaannya pada waktu hidupnya (shadaqah jaariyah), itu semua dia akan mendapatkan pahalanya setelah dia wafat “. (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqy dari Aba Hir dalam Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi’ Shaqar, Hal. 381).

Mengenal E-Learing

E-Learing di Era Digital


E-learning atau Elektronic Learning adalah sistem pembelajaran yang menggunakan perangkat elektronik yang sudah didukung dengan jaringan internet sebagai medianya. Devinisi ini kurang lebih sama seperti yang diuraikan oleh Rosenberg yang mengatakan jika e-learning merupakan penggunaan teknologi internet yang dimaksudkan untuk mengirimkan serangkaian solusi yang bisa  meningkatkan pengetahuan dan juga keterampilan.
Dengan metode belajar mengajar ini siswa diharapkan mampu mengikuti proses pembelajaran yang berikan guru dengan lebih baik dan lebih cepat karena proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, dengan kata lain Anda dapat tetap memperlajari materi-materi yang diperoleh dari sang guru tanpa harus bertemu secara fisik. Melalui perangkat elektronik dan internet, para pendidik dapat menyampaikan materi pembelajaran dan berinteraksi dengan para siswanya.
Pembelajaran dengan menggunakan media elektronik ini dapat mencangkup sistem pengajaran formal maupun informal. Untuk e-learning secara formal biasanya dikelola oleh universitas yang menyediakan pengajaran jarak jauh bagi para siswanya. Secara umum keberadaan sistem pengajaran e-learning bukan lagi sesuatu yang asing di sekolah maupun peguruan tinggi yang ada di Indonesia.  Sudah sejak lama para pendidik melibatkan media internet dalam membimbing para siswa untuk mencari sumber dan referensi ataupun untuk mengirimkan tugas melalui e-mail.
Selain dibidang akademisi, tidak sedikit juga perusahaan-perusahaan konsultan seperti perusahaan penyedia jasa e-learning yang juga ikut memanfaatkan metode pengajaran ini dalam memberikan pengarahan dan pembelajaran kepada para karyawan dari perusahaan itu sendiri. Dengan menggunakan pelatihan karyawa melalui sistem e-learning secara formal maka dapat dipastikan perusahaan tersebut diuntungkan dari segi finansial maupun non-finansial.
Berbeda dengan e-learning formal, e-learning yang dilakukan secara informal biasanya melibatkan interaksi yang lebih sederhana dengan memanfaatkan fasilitas seperti website pribadi ataupun organisasi, e-newsletter atau mailing list. Adapun materi yang disampaikan biasanya seputar mensosialisasikan program, jasa ataupun pengetahuan kepada masyarakat luas.
Ada beberapa keuntungan yang ditawarkan oleh sistem pembelajaran baru ini khususnya dilhat dari segi kemudahan dan kepraktisan dalam memperoleh wawasan dan keterampilan baru. Produk digitalisasi di bidang pendidikan ini menjadikan proses belajar dan mengajar menjadi lebih efesien dan juga mampu mengoptimalkan hasil yang didapat oleh siswa dengan memanfaatkan sumber pengetahuan tanpa batas.
Ditinjau dari berbagai manfaat yang ditawarkannya, tidak mengherankan jika e-learning dianggap sebagai solusi dalam sistem pendidikan yang dibutuhkan di zaman yang serba cepat seperti sekarang ini. Secara umum baik pendidik maupun siswa dapat mengoptimalkan manfaat dari sistem pengajaran digitalis, jika berbagai faktor pendukungnya dapat terpenuhi dimana faktor-faktor ini saling berkaitan satu sama lain.
Bagi Anda yang ingin mengikuti e-learning, maka hal yang harus Anda lakukan adalah mempersiapkan media pembelajaran yang akan menunjang sistem pembelajaran yang dipilih. Tentukan terlebih dahulu topik yang ingin dipelajari dan tentukan pula target atau lama waktu yang diperlukan untuk menguasai topik tersebut. Setelah itu persiapkan sarana belajar yang tentu saja berbasis elektronik yang sesuai untuk mempermudah seperti komputer, printer, akses internet dan sebagainya. Perangkat elektronik ini akan mempermudah proses menambah wawasan.



Guru Honorer dan Buruh Tani Tonggak Kemajuan Bangsa yang Mulai Rapuh

Guru Honorer dan Buruh Tani Tonggak Kemajuan Bangsa yang Mulai Rapuh

       Guru Honorer dan buruh tani bisa dikatakan sebagai tonggak kemajuan bangsa, karena dari kedua profesi inilah bangsa kita bisa menjadi bangsa yang mandiri dan kuat layaknya kejayaan Majapahit dan Sriwijaya waktu dulu. Pada waktu itu  negara kita memiliki kekuatan maritim sekaligus agraris yang unggul, ilmu pengetahuan pun maju. Semua itu terbukti dari peninggalan kebudayaan dan peradaban kerjaan majapahit berupa Candi Borobudur yang merupakan bangunan raksasa yang memiliki tinggkat arsitektur tingkat tinggi untuk saat itu. ini bukti pada saat itu Indonesia adalah negeri yang kaya akan SDM yang berkualitas karena kemajuan pendidikannya, dan sosok gurulah yang mampu melakukannya. Pertanian saat itu juga tergolong unggul, Majapahit menjadi penyuplai bahan makanan, buah-buahan, sayur-sayuran, bahkan rempah-rempah dan kayu. Ini terbukti dengan adanya Jalur Perdagan yang melewati selat-selat di Nusantara, dan ekspansi orang-orang luar karena motif menguasai hasil pertanian dan perkebunan.

Dari narasi tadi, bisa dikatakan bahwa guru dan buruh tani merupakan pelaku sejarah dalam kemajuan bangsa Indonesia, yang saat itu masih berbentuk kerajaan Majapahit dan Sriwijaya.


       Walau kedua profesi itu penting, tetapi ternyata keduanya untuk saat ini sedang mengalami dilema. Masalahnya lagi-lagi karena kesenjangan ekonomi karena gaji dan pendapatan mereka tidak sebesar profesi lain. Kesejahteraan itulah yang menjadikan profesi ini mungkin saja tidak lagi menjadi primadona lagi, meski pun guru sempat booming dengan adanya kebijaksanaan Sertivikasi Guru untuk guru honorer yang belum PNS. Namun sekrang mulai turun animonya bersamaan dengan ketidak jelasan dari pemerintah untuk mengangkat mereka menjadi guru PNS.


       Nasib Petani juga tak kalah malangnya, pertanian sekarang sudah kalah dan tergusur oleh hegemoni Industri. Tanah pertanian banyak yang ditinggalkan dan tak produktif lagi karena ongkos bertani semakin mahal, harga pupuk naik terus, harga obat-obatan juga tak mau kalah untuk naik harga, semuanya menjadi kacau kalau serangan hama dan kasus kebanjiran dan kekeringan melanda di deareh pertanian. Itulah yang menyebabkan, anak-anaknya petani tak mau lagi jadi petani. mereka lebih memilih kerja di dunia Indusri. Efeknya, dunia pertanian tidak bergairah lagi, tanah petani tak tergarap dan akhirnya dijual karena alasan kemiskinan.



      Sungguh tragis, kalau dua profesi ini terpinggirkan dan tak tersentuh kebijakan pemerintah. Karena kalau ingin memajukan negera ini bangunlah dari segi pendidikan dan segi pertanian dan kelautan, sehingga kita bisa menjadi bangsa yang besar, sebesar Kerajaan Majapahit atau Sriwijaya di tempo dulu.

7 Kesalahan Guru Saat Mengajar

7 Kesalahan Guru Saat Mengajar


          Menjadi Guru tidaklah mudah, sebagai manusia biasa kadang guru melakukan banyak kesalahan. Namun sebagai pribadi yang profesional haruslah kita melakukan koreksi diri dan merubahnya sedikit demi sedikit. Guru harus mampu memahami kondisi-kondisi yang memungkinkan dirinya berbuat salah, dan yang paling penting adalah mengendalikan diri serta menghindari dari kesalahan-kesalahan. Menurut E. Mulyasa (2011:19) dari berbagai hasil kajian menunjukan bahwa sedikitnya terdapat tujuh kesalahan yang sering dilakukan guru dalam permbelajaran, yaitu ;


1.      Mengambil Jalan Pintas Dalam Pembelajaran
          Kita semua tahu, tugas guru paling utama adalah mengajar, dalam pengertian menata lingkungan agar terjadi kegiatan belajar pada peserta didik. Berbagai kasus menunjukan bahwa diatara para guru banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar dengan baik, meskipun tidak dapat menunjukan alas an yang mendasari asumsi itu. Asumsi keliru tersebut seringkali menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehinga banyak guru yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.


2.  Menunggu Peserta Didik Berperilaku Negatif
         Dalam pembelajaran di kelas, guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik yang semuanya ingin diperhatikan. Peserta didik akan berkembang secara optimal melalui perhatian guru yang positif , sebaliknya perhatian yang negative akan menghambat perkembangan peserta didik. Mereka senang jika m;endapat pujian dari guru dan merasa kecewa jika kurang diperhatikan .

         Namun sayang kebanyakan guru terperangkap dengan pemahaman yang keliru tentang mengajar, mereka menganggap mengajar adalah menyampaikan maateri kepada peserta didik, mereka juga menganggap mengajar adalah memberika pengetahuan kepada peserta didik. Tidak sedikit guru yang sering mengabaikan perkembangan kepribadian peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik, dan tidak membuat masalah.

         Biasanya guru baru memberikan perhatian kepada peserta didik ketika rebut, tidur dikelas, tidak memperhatikan pelajaran, sehingga menunggu peserta didik berperilaku buruk. Kondisi tersebut sering kali mendapatkan tanggapan yang salah dari peserta didik, mereka beranggapan bahwa untuk mendapatkan perhatian dari guru harus berbuat salah, burbuat gaduh, menganggu atau melakukan tindakan tidak disiplin lainnya. Seringkali terjadi perkelahian pelajar hanya  karena mereka tidak mendapatkan perhatian, dan meluapkannya melalui perkelahian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan peserta didik tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian dari guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya, tetapi mereka tahu cara menggangu teman, membuat keributan, serta perkelahian, dan ini kemudian yang mereka gunakan untuk mendapatkan perhatian.

 3. Menggunakan Destructive Disclipline


           Akhir-akhir ini banyak perilaku negatif yang dilakukan oleh para peserta didik, bahkan melampaui batas kewajaran karena telah menjurus pada tindak melawan hokum, melanggar tata tertib, melanggar norma agama, criminal, dan telah membawa akibat yang sangat merugikan masyarakat. Demikian halnya dengan pembelajaran, guru akan mengahadapi situasi-situasi yang menuntut guru harus melakukan tindakan disiplin.

           Seperti alat pendidikan lain, jika guru tidak memiliki rencana tindakan yang benar, maka dapat melakukan kesalahan yang tidak perlu. Seringkali guru memberikan hukuman kepada peserta didik tanpa melihat latar belakang kesalahan yang diperbuat, tidak jarang  guru memberikan hukuman diluar batas kewajaran pendidikan, dan banyak guru yang memberikan hukuman kepada peserta didik tidak sesuai dengan jenis kesalahan.

          Dalam pada itu seringkali guru memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan peserta didik diluar kelas (PR), namun jarang sekali guru yang mengoreksi pekerjaan peserta didik dan mengembalikannya dengan berbagai komentar, kritik dan saran untuk kemajuan peserta didik. Yang sering dialami peserta didik adalah guru sering memberikan tugas , tetapi tidak pernah memberi umpan balik terhadap tugas-tugas yang dikerjakan. Tindakan tersebut merupakan upaya pembelajaran dan penegakan disiplin yang destruktrif, yang sangat merugikan perkembangan peserta didik.

           Bahkan tidak jarang tindakan destructive disclipline yang dilakukan oleh guru menimbulkan kesalahan yang sangat fatal yang tidak hanya mengancam perkembangan peserta didik, tetapi juga mengancam keselamatan guru. Di Jawa Timur pernah ada kasus seorang peserta didik mau membunuh gurunya dengan seutas tali raffia, hanya gara-gara gurunya memberikan coretan-coretan merah pada hasil ulangannya.

           Kesalahan-kesalaha seperti yang diuraikan diatas dapat mengakibatkan penegakan disiplin menjadi kurang efektif, dan merusak kepribadian dan harga diri peserta didik. 


4. Mengabaikan Perbedaan Peserta Didik
           Kesalahan berikutnya  yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah mengabaikan perbedaan individu peserta didik. Kita semua mengetahui setiap peserta didik memiliki perbedaan yang sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran. Peserta didik memiliki emosi yang sangat bervariasi, dan sering memperlihatkan sejumlah perilaku yang tampak aneh. Pada umumnya perilaku-perilaku tersebut cukup normal dan dapat ditangani dengan menciptakan pembelajaran yang kondusif. Akan tetapi karena guru disekolah dihadapkan pada sejumlah peserta didik, guru seringkali sulit untuk membedakan mana perilaku yang wajar atu normal dan mana perilaku yang indisiplin dan perlu penanganan khusus.

            Setiap peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan, kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga, latar belakang social ekonomi, dan lingkungan, membuat peserta didik berbeda dalam aktifitas, kreatifitas, intlegensi, dan kompetensinya. Guru seharusnya dapat mengidentifikasi perbedaan individual peserta didik, dan menetapkan karakteristik umum yang menjadi cirri kelasnya, dari ciri-ciri individual yang menjadi karakteristik umumlah seharusnya guru memulai pembelajaran. Dalam hal ini, guru juga harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus dikembangkan dan yang harus diarahkan kembali. Sehubungan dengan uraian diatas, aspek-aspek peserta didik yang peru dipahami guru antara lain: kemampuan, potensi, minat, kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, hasil belajar, ctatan kesehatan, latar belakang sekolah dan kegiatannya disekolah. Informasi tersebut dapat dieroleh dan dipelajari dari laporan atau catatan sekolah, informasi dai peserta didik lain (teman dekat), observasi langsung dalam situasi kelas, dan dalam berbagai kegiatan lain di luar kelas, serta informasi dari peserta didik itu sendiri melalui wawancara, percakapan dan autobiografi.


5. Merasa Paling Pandai
       Kesalahan lain yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah merasa paling pandai dikelas. Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada umumnya para peserta didik disekolahnya relative lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa peserta didik tersebut lebih bodoh disbanding dirinya, peserta didik dipandang sebagai gelas yang perlu di isi air ke dalamnya. Perasaan ini sangat menyesatkan , karena dalam kondisi seperti sekarang ini peserta didik dapat belajar melalui internet dan berbagai media massa, yang mungkin guru belum menikmatinya.
Hal ini terjadi terutama di kota-kota besar, ketika peserta didik datang dari keluarga kaya yang dirumahnya memiliki sarana dan prasarana yang lengkap, serta berlangganan Koran dan majalah yang mungkin lebih dari satu edisi, sedangkan guru belum memilikinya. Denan demikian peserta didik yang belajar mungkin saja lebih pandai daripada guru. Jika ini terjadi maka guru harus demokratis untuk bersedia belajar kembali, bahkan belajar dari peserta didik sekalipun, atau saling membelajarkan. Dalam hal ini guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang senantiasa menyesuaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan perkembangan yang terjadi dimasyarakat. Jika tidak, maka akan ketinggalan kereta, bahkan disebut guru ortodok.


6. Diskriminatif
      Pembelajaran ynag baik dan efektif adalah yang mampu memberi kemudahan belajar secara adil dan merata (tidak diskriminatif), sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Keadilan dalam pembelajaran meupakan kewajiban guru dan hak peserta didik untuk memperolehnya. Dalam prakteknya banyak guru yang tidak adil, sehingga merugikan perkembangna peserta didik, dan ini merupakan kesalahan guru yang sering dilakukan , terutama dalam penilaian. Penilaian merupakan upayakan untuk memberikan penghargaan kepada peserta didik sesuai dengan usaha yang dilakukannya selama proses pembelajaran.
         Oleh karena itu, dalam memeberikan penilaian harus dilakukan secara adil, dan benar-benar merupakan cermin dari perilaku peserta didik. Namun demikian tidak sedikit guru yang menyalahgunakan penilaian, misalnya sebagai ajang untuk balas dendam, atau ajang untuk menyalurkan kasih saying diluar tanggung jawabnya sebagai seorang guru.

7. Memaksa hak peserta didik
      Memaksa hak peserta didik merupakan kesalahan yang sering dilakukan guru, sebagai akubat dari kebiasaan guru berbisnis dalam pembelajaran, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan.  Guru boleh saja memiliki pekerjaan sampingan, memperoleh penghasilan tambahan, itu sudah menjadi haknya, tetapi tindakkan memaksa bahkan mewajibkan peserta didik untuk membeli buku tertentu sangat fatal serta kurang bisa digugu dan ditiru. Sebatas menawarkan boleh saja, tetapi kalau memaksa kasihan bagi orangtua yang tidak mampu.
         Kondisi semacam ini sering kali membuat prustasi peserta didik, bahkan di Garut pernah pernah ada peserta didik bunuh diri hanya karena dipaksa untuk membeli alat pelajaran tertentu oleh gurunya. . Kerna peserta didik tersebut tidak memiliki uang atau tidak mampu dia nekat bunuh diri. Ini contoh akibat fatal dari guru yang suka berbisnis disekolah dengan memaksa peserta didiknya untuk membeli. Hindarilah, ingat sebagai guru akan diminta pertanggungjawaban di akhirat. Di dunia gaji tidak seberapa, jangan kotori keuntungan akhirat dengan menodai profesi. Niatkan menjadi guru sebagai ibadah. Jadikan pekerjaan guru sebagai ladang amal yang akan dipanen hasilnya kelak diakhirat. Percayalah, dan tanyakan pada hati nurani. Jangan mengambil keuntungan sesaat, tetapi menyesatkan. Sadarlah wahai guru, agar namamu selalu sejuk dalam sanubariku. Demikianlah penjelasan E. Mulyasa mengenai 7 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Guru Dalam Pembelajaran.
 Sumber :
Mulyasa, E. 2011.Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya


Sabtu, 05 Januari 2019

GURU HARUS TAU, APAKAH ITU UNBK HOTS ?


UNBK HOTS




UNBK tahun ini akan menggunakan tipe soal HOTS. Sehingga kita sebagai pendidik harus tau, apa perbedaan dari tipe HOTS dengan tipe soal yang biasa. Sehingga kita bisa membimbing siswa untuk selalu siap mengikuti perubahan tersebut.

HOTS awalnya dikenal dari konsep Benjamin S. Bloom dkk. dalam buku berjudul Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals (1956) yang mengategorikan berbagai tingkat pemikiran bernama Taksonomi Bloom, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi. Konsep ini merupakan tujuan-tujuan pembelajaran yang terbagi ke dalam tiga ranah, yaitu Kognitif (keterampilan mental seputar pengetahuan), Afektif (sisi emosi seputar sikap dan perasaan), dan Psikomotorik (kemampuan fisik seperti keterampilan).
BTV-revised-WR
Taksonomi Bloom (Sumber: globaldigitalcitizen.org)

Konsep Taksonomi untuk menentukan tujuan belajar ini dapat kita sebut sebagai tujuan akhir dari sebuah proses pembelajaran. Jadi, setelah proses pembelajaran tertentu, siswa diharapkan dapat mengadopsi keterampilan, pengetahuan, serta sikap yang baru.
Nah, HOTS sendiri merupakan bagian dari ranah kognitif yang ada dalam Taksonomi Bloom dan bertujuan untuk mengasah keterampilan mental seputar pengetahuan. Ranah kognitif versi Bloom ini kemudian direvisi oleh Lorin Anderson, David Karthwohl, dkk. pada 2001. Urutannya diubah menjadi enam, yaitu:
  1. Mengingat (remembering)
  2. Memahami (understanding)
  3. Mengaplikasikan (applying)
  4. Menganalisis (analyzing)
  5. Mengevaluasi (evaluating)
  6. Mencipta (creating)
Tingkatan 1 hingga 3 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS), sedangkan tingkat 4 sampai 6 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).
Apa Tujuan Soal HOTS?
Menurut Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, Prof. Intan Ahmad, Ph.D., HOTS adalah satu cara untuk menguji apakah seseorang bisa menganalisis, membandingkan, menghitung, dan sebagainya. "Jadi memang diperlukan kemampuan yang tidak biasa. Bukan hanya sekadar mengingat atau menghafal saja," jelas Prof. Intan dalam Ruangguru LIVE Spesial SBMPTN pada hari Selasa, 30 Oktober lalu.

Prof. Intan juga memberikan contoh dari standar soal HOTS yang biasanya terdapat kalimat-kalimat atau tabel. Seperti apa ya kawan? Yuk, kita lihat!
"Mengapa nyamuk bisa terbang lurus, belok, atau bertahan di udara? Lalu, mengapa burung yang juga bisa terbang bisa memiliki kecepatan yang lebih tinggi?"
Nah, soal HOTS semacam ini bisa kamu jawab melalui ilmu Matematika atau Fisika, Sob. Terlihat 'kan bahwa kamu tidak hanya sekadar menjawab soal dengan menghafal rumus, kamu perlu memahami konsep dari materinya juga.

Soal model HOTS ini mendorong kamu para calon mahasiswa untuk melakukan penalaran tingkat tinggi sehingga tidak terpaku hanya pada satu pola jawaban yang dihasilkan dari proses menghafal, tanpa mengetahui konsep ilmunya. HOTS merupakan salah satu tuntutan keterampilan dalam pembelajaran abad 21, yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.
     
Soal HOTS memungkinkan untuk membuat jenis soal yang sama, namun dengan pertanyaan yang berbeda. Ketua Panitia SBMPTN 2019 sekaligus Rektor Universitas Sebelas Maret, Ravik Karsidi menyebutkan, hal ini bertujuan untuk menjaring calon mahasiswa yang berkualitas serta sesuai dengan perkembangan teknologi informasi di era digital. Dengan membiasakan diri kamu dengan soal-soal yang menantang, potensi diri kamu juga bisa terpacu untuk semakin berkembang.

Guru Kurikulum yang Berjalan

Guru  dan Kurikulum 2013


         Guru adalah kurikulum yang sesungguhnya. Tanpa Guru yang berkarakter sangat tidak mungkin berharap kurikulum 2013 bisa mengubah manusia indonesia menjadi manusia berakhlak mulia. Guru merupakan penggerak utama dalam sebuah sistem pendidikan dalam sebuah negara. Tanpa guru yang berkualitas maka akan terasa percuma perubahan dalam sistem pendidikan.Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuan para pendidiknya untuk mengubah karakter generasi penerusnya ke depan. Tanpa figur pendidik, mungkin bangsa besar seperti Indonesia tidak akan dapat menikmati hasil jerih payah putra-putri nusantara yang sudah mendorong perkembangan tersebut.

         Pencapaian Indonesia hingga saat ini tidak terlepas dari peran guru yang telah membimbing anak muridnya menjadi manusia dewasa dan berperan aktif dalam pembangunan Indonesia.
Namun, demi melahirkan para "nation builders" Indonesia, hingga saat ini masih banyak guru-guru yang berjuang demi kesejahteraan diri maupun keluarga yang disokongnya.


       Apresiasi yang ditujukan kepada mereka juga dinilai masih rendah mengingat betapa penting dan berharganya peran seorang Guru atau Pengajar dalam kehidupan sosial bermasyarakat. “Pemimpin! Guru! Alangkah hebatnya pekerjaan menjadi pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak! Terutama sekali di zaman kebangkitan! Hari kemudiannya manusia adalah di dalam tangan guru itu, menjadi manusia”. Demikian sepenggal kalimat Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno tentang guru yang dikutip dari buku karangannya, Dibawah Bendera Revolusi.

        Guru adalah sebuah profesi yang mulia karena di tangan merekalah masa depan bangsa ini ditentukan. Guru juga dianggap sebagai pahlawan pembangunan, karena di tangan mereka akan lahir pahlawan-pahlawan pembangunan yang kelak mengisi ruang-ruang publik di negeri ini. Guru yang ideal, bukan sekedar guru yang memenuhi syarat-syarat teknik: seperti pintar, pandai, atau pakar di bidang ilmu yang dimiliki; melainkan yang jauh lebih penting dari itu semua, guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai "agent of change".

         Disini, tugas guru adalah menumbuhkan keingintahuan anak didik dan mengarahkannya dengan cara yang paling mereka minati. Jika anak didik diberi rasa aman, dihindarkan dari celaan dan cemoohan, berani berekspresi dan bereksplorasi secara leluasa, ia akan tumbuh menjadi insan yang penuh dengan percaya diri dan optimistis. Seorang guru bisa menjadi pahlawan pembangunan yang memiliki jiwa juang, memiliki semangat untuk berkorban, dan menjadi pionir bagi kemajuan masyarakat.

        Oleh sebab itu, tugas yang diemban oleh seorang guru tidak ringan, karena guru yang baik tidak hanya memberitahu, menjelaskan atau mendemonstrasikan, tapi juga dapat menginspirasi. Seorang guru harus mampu memandang perubahan jauh ke depan, dengan demikian guru dapat merencanakan apa yang terbaik untuk anak didiknya.

        Seorang guru juga harus dapat mengemban tugasnya sebagai motivator yang mampu memotivasi anak didiknya agar penuh semangat dan siap menghadapi serta menyongsong perubahan hari esok. Peran seperti inilah yang disebut oleh Presiden Soekarno, sebagai “Guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak.”


     Kurikulum 2013 merupakan rancangan sistem pendidikan yang sangat ideal untuk saat ini, dengan mengusung pendidikan karakter dan pembelajran ilmiah yang berpusat pada siswa, kurikulum ini menjadi konsep perencanaan pendidikan yang wajib dijalankan oleh guru. 

      Kurikulum 2013 (K-13) adalah kurikulum yang berlaku dalam Sistem Pendidikan Indonesia. Kurikulum ini merupakan kurikulum tetap diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum-2006 (yang sering disebut sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun. Kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaanya pada tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah rintisan.
     Pada tahun ajaran 2013/2014, tepatnya sekitar pertengahan tahun 2013, Kurikulum 2013 diimpelementasikan secara terbatas pada sekolah perintis, yakni pada kelas I dan IV untuk tingkat Sekolah Dasar, kelas VII untuk SMP, dan kelas X untuk jenjang SMA/SMK, sedangkan pada tahun 2014, Kurikulum 2013 sudah diterapkan di Kelas I, II, IV, dan V sedangkan untuk SMP Kelas VII dan VIII dan SMA Kelas X dan XI. Jumlah sekolah yang menjadi sekolah perintis adalah sebanyak 6.326 sekolah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.
        Kurikulum 2013 memiliki empat aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb., sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika.
       Materi pelajaran tersebut (terutama Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) disesuaikan dengan materi pembelajaran standar Internasional (seperti PISA dan TIMSS) sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di dalam negeri dengan pendidikan di luar negeri.[
       Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, nomor 60 tahun 2014 tanggal 11 Desember 2014, pelaksanaan Kurikulum 2013 dihentikan dan sekolah-sekolah untuk sementara kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, kecuali bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang sudah melaksanakannya selama 3 (tiga) semester, satuan pendidikan usia dini, dan satuan pendidikan khusus. Penghentian tersebut bersifat sementara, paling lama sampai tahun pelajaran 2019/2020.

Mengenal Lebih Dekat Pertunjukan Burok Cirebon


Mengenal Lebih Dekat Pertunjukan Burok Cirebon

A. Mengenal Pertunjukan Burok Cirebon

Pertunjukan Burok biasanya dipakai dalam beberapa perayaan, seperti Khataman, Sunatan, perkawinan, Marhabaan dll. Biasanya dilakukan mulai pagi hari berkeliling kampung di sekitar lokasi perayaan tersebut. Adapun boneka-boneka Badawang di luar Buroq, terdapat pula boneka Gajah, Macan, dll. Di mana sebelumnya disediakan terlebih dahulu sesajen lengkap sebagai persyaratan di awal pertunjukan. Kemudian ketua rombongan memeriksa semua perlengkapan pertunjukan sambil membaca doa. Pertunjukan dimulai dengan Tetalu lalu bergerak perlahan dengan lantunan lagu Asroqol (berupa salawat Nabi dan Barzanji). 

Rombongan pertunjukan masih berjalan ditempat, setelah banyak masyarakat yang datang rombongan mulai bergerak dan semakin lama semakin meriah karena masyarakat boleh turut serta menari berbaur dengan para pelaku, sementara kalau dalam acara khitanan, anak sunat dinaikan ke atas Burok dengan pakaian sunat lengkap dan nampak dimanjakan. Sementara anak-anak desa yang ingin naik boneka-boneka Gajah, Macan, Kuda, Kera, dll. Dipungut uang antara Rp. 500-1000,-. 

Pada saat arak-arakan, lagu-lagupun berubah tidak lagi lagu Asroqol tetapi lagu-lagu tarling, dangdutan, Jaipongan, seperti Limang Taun, Sego Jamblang, Jam Siji Bengi, Sandal Barepan, Garet Bumi, Sepayung Loroan, Kacang Asin, Tilil Kombinasi, bahkan lagu-lagu yang sedang popular, misalnya Pemuda Idaman, Melati, Mimpi Buruk, Goyang Dombret dll. Sepanjang pertunjukan Burok, tetap boneka Buroq lebih menarik, rupanya yang cantik, dan gerakan-gerakan kaki para pelaku yang bergerak mengikuti irama musik, menjadi disukai masyarakat.

Sebelum burok diarak, biasanya juga di isi oleh sebuah pertunjukan drama yang diperankan oleh beberapa tokoh seperti Buta Ijo, Burok Rahwana (burok yang berwajah merah seperti rahwana), dan bebarapa siluman seperti barongan. Buta Ijo biasanya menjadi lawakan atau tokoh lucu yang memiliki kekuatan menolak bala dengan mengambil bantal dari orang yang punya hajatan dan membuangnya di atas genteng. Bantal itu menyimbolkan penyakit/ bala yang dibuang untuk menghilangkan kesialan, diharapkan dengan membuang bala itu keluarga yang punya acara bisa bahagia keluarganya, banyak rezeki dan diberi kesalamatan. Namun biasanya, Buta meminta imbalan berupa permintaan uang sawer, rokok, atau minuman kesukaan Buta tersebut.

Kesenian Burok Cirebon adalah salah satu kesenian pagelaran, khususnya daerah pantura perbatasan sisi barat Jawa Tengah sampe pantura Jawa Barat sekitar kabupaten-kabupaten Brebes, Cirebon dan Indramayu. 

            Pagelaran kesenian Burok ini mirip pegelaran kesenian Barongsai, yang membedakannya adalah kalau Barongsai memakai wujud hewan utama naga, sedangkan Burok itu memakai wujud hewan utama kuda bersayap dengan kepala putri cantik yang rambutnya panjang. Wujud hewan pengiring lainnya dalam kesenian burok yaitu Singa atau juga dikenal Sisingaan atau Singa Gotong atau Gotong Singa atau Singa Barong merupakan seni pertunjukan yang terpisah dengan Seni Burok. Kini, segala jenis binatang bahkan rupa-rupa “dedemit” ramai-ramai mengiringi burok. Kesenian burok sampai kini masih tetap exist di Kabupaten Cirebon.



B. Makna Pertunjukan Burok Cirebon


       Makna yang tersembunyi dibalik bentuk pertunjukan Burok, antara lain: Makna syukuran bagi siapapun yang menanggap Burok, terutama dianggap sebagai seni pertunjukan rakyat yang Islami; Makna sinkretis bagi yang melihatnya dari tradisi Badawang (boneka-boneka yang ada muncul dari cara berfikir mitis totemistik yang berasal dari hubungan arkaistik sebelum Islam menjadi agama dominan di Cirebon); Makna akulturasi bagi benda yang bernama Buroq (sebagai pinjaman dari daerah Timur Tengah terkait dengan kisah Isra Mi’raj Nabi Muhamad SAW yang dipercayai sebagian masyarakat Cirebon sebagai dongeng dari tempat-tempat pengajian yang diabadikan juga dalam lukisan-lukisan kaca); Makna universal bagi sosok hewan seperti Buroq, yang sebenarnya dapat ditemukan di dalam mitos-mitos bangsa tertentu, misalnya Yunani, terdapat pula mahluk seperti Buroq, yakni Centaur (mahkluk berwujud kuda bertubuh dari dada sampai kepala adalah manusia). Di mana di dalam dunia perbintangan dikenal sebagai rasi Sagitarius. Demikian pula bagi bangsa Mesir, seperti kita kenal pada Sphinx.

C. Sejarah Pertunjukan Burok Cirebon

           Kesenian Burok khas Cirebon pertama kali di perkenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga untuk mengajak masyarakat kumpul-kumpul sekalian untuk memberikan dakwah agama Islam. Jadi sama saja seperti kesenian wayang, Kesenian Burok Cirebon Adalah sarana pembuka untuk saling bersilaturahmi. Burok khas Cirebon dibuat dengan rupa wajah wanita cantik dan dipakaikan kerudung. Mungkin karena dulunya digunakan untuk kebutuhan dakwah, kepala burok dipakaikan kerudung.





Pendidikan Melalui Sebuah Tradisi

pendidikan karakter melalui tradisi

Pendidikan Karakter Melalui Sebuah Tradisi

        Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. Pendidikan karakter bisa menjadikan generasi kita lebih memahami jati diri bangsanya yang unik dan berbeda dengan bangsa lain. Pendidikan karakter mengantarkan kita kepintu gerbang pembangunan manusia yang sempurna, bermoral, mandiri, taat aturan dan profesional.

       Tradisi merupakan warisan dari nenek moyang kita yang syarat dengan pendidikan melalui kearifan lokal. Melalui Tradisi ini kita mampu mengetahui bagaimana masyarakat pada zaman itu mencoba menata kehidupannya dengan norma dan aturan yang disepakati bersama. Tradisi menjadi media bagi masyarakat untuk mengubah generasi berikutnya. Dengan tradisi kita bisa menjadi lebih dekat dengan "kulit kita", tahu mengapa kita bermasyarakat, tahu apa yang harus kita lakukan dalam bermasyarakat.



       Kearifan lokal memiliki hubungan yang sangat dengan budaya dan tradisi. Kearifan lokal tumbuh subur pada satu tempat yang kadang menjadi khas, diwariskan turun temurun, dari mulut kemulut, dan merupakan bagian dari budaya yang hanya tumbuh pada wilayah tertentu saja. Kearifan lokal adalah ide, pesan, ajaran, aturan, bahkan ilmu pengetahuan yang murni dan terlahir dari generasi sebelumnya. sehingga bisa dikatakan kearifan lokal merupakan warisan yang mahal harganya, karena yang diwarisi bukanlah benda material seperti tanah, emas, atau berlian, tetap ilmu pengetahuan yang selalu menjaga generasi yang mempelajari maknanya.

       Pendidikan karakter ternyata sedari dulu diajarkan oleh nenek moyang kita melalui tradisi. Tradisi ini seperti guru, simbol dan bahasa yang bisa menjadi wadah yang besar untuk diisi dengan berbagai nilai dan manfaat bagi generasi kita. Sebuah tradisi merupakan kumpulan benda material atau sebuah gagasan yang diberi makna khusus dari masa ke masa. Tradisi pun tercipta ketika seseorang menetapkan bagian-bagian cerita tertentu dari masa lalu sebagai tradisi. Seperti yang dijelaskan Mikhail Coomans dalam bukunya Manusia Daya: Dahulu, Sekarang, Masa Depan (1987), tradisi merupakan sebuah gambaran sikap dan perilaku manusia yang sudah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang sudah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang.  

        Untuk itu mari kita menghidupkan tradisi, karena dalam tradisi itu kita bisa memperoleh harta yang sangat berharga yang disebut dengan kearifan lokal yang didalamnya memiliki manfaat sebagai sebuah pesan pendidikan yang bisa mengubah karakter generasi berikutnya menjadi lebih baik di era globalisasi seperti  saat ini. Apalagi dengan adanya globalisasi dan kemajuan teknologi informasi sepatutnya kita mulai menghidupkan kembali tradisi menjadi tameng yang kuat untuk menahan segala budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter budaya kita.

Menghindari Doktrinasi Terorisme